News Pelaihari — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari, Kalimantan Selatan, terus berinovasi dalam membina kemandirian warga binaan. Salah satu program unggulan yang kini dijalankan adalah pelatihan pembuatan telur asin, yang menjadi bagian dari kegiatan pembinaan kemandirian berbasis ekonomi produktif.

Program ini disambut antusias oleh para warga binaan, karena memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan setelah bebas nanti. Kepala Rutan Pelaihari, Nurhadi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, serta memberikan bekal wirausaha bagi warga binaan.
Baca Juga : Vonis Kasus Ilegal Loging Diwarnai Demo di Depan PN Samarinda Kaltim
Warga Binaan Diajarkan Teknik Produksi dan Pemasaran
Pelatihan pembuatan telur asin ini dilakukan di bengkel kerja Rutan, dengan melibatkan instruktur dari Dinas Perikanan Kabupaten Tanah Laut. Para peserta diajarkan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengasinan, hingga pengemasan produk siap jual.
“Selain keterampilan teknis, kami juga memberikan pelatihan manajemen sederhana agar mereka tahu cara menghitung modal dan keuntungan. Tujuannya agar warga binaan bisa mandiri secara ekonomi setelah bebas,” jelas Nurhadi.
Produk telur asin hasil karya warga binaan Rutan Pelaihari bahkan sudah mulai dipasarkan di sekitar lingkungan rutan dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Dukung Program Reintegrasi Sosial dan Ekonomi
Program ini menjadi bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kemenkumham dalam mewujudkan pembinaan yang humanis dan produktif. Kegiatan kemandirian seperti pembuatan telur asin diharapkan mampu menekan angka residivisme dan memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk berkontribusi secara positif setelah keluar dari rutan.
“Kami ingin warga binaan tidak hanya berubah perilakunya, tetapi juga punya kemampuan untuk hidup mandiri dan berdaya saing,” tambah Nurhadi.
Wujudkan Rutan Produktif dan Mandiri
Selain pembuatan telur asin, Rutan Pelaihari juga tengah mengembangkan berbagai program pembinaan lainnya seperti budidaya lele, pertanian hidroponik, dan kerajinan tangan. Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat nilai kemandirian dan kreativitas warga binaan.
Pihak Rutan berharap, dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat, produk-produk hasil karya warga binaan dapat menembus pasar lokal dan menjadi contoh keberhasilan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.









