News Pelaihari — Sejumlah pemilik kendaraan di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, masih enggan menggunakan bahan bakar jenis Pertalite. Kekhawatiran utama yang muncul adalah risiko mesin mogok dan performa kendaraan menurun, terutama pada sepeda motor keluaran lama maupun kendaraan yang kerap dipakai untuk perjalanan jauh.

Kekhawatiran Mesin Mogok Masih Jadi Alasan Utama
Dari pantauan di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) wilayah Pelaihari, terlihat sebagian masyarakat tetap memilih Premium atau Pertamax meski ketersediaan Pertalite lebih dominan.
Baca Juga :
Rudi Hartono, warga Angsau yang sehari-hari menggunakan sepeda motor untuk bekerja, mengaku masih ragu beralih ke Pertalite.
“Saya pernah coba sekali, motor sempat brebet dan hampir mogok. Sejak itu saya kembali pakai Premium atau Pertamax,” ujarnya saat ditemui, Selasa (18/11).
Rudi menambahkan bahwa banyak rekannya sesama pengendara mengalami hal serupa. Menurutnya, mesin motor keluaran lama lebih rentan mengalami penurunan tenaga ketika menggunakan Pertalite.
SPBU: Kualitas Pertalite Sesuai Standar
Pihak SPBU di Pelaihari menegaskan bahwa pasokan Pertalite yang mereka terima berasal langsung dari Pertamina dan telah melalui pengawasan standar yang ketat.
Ahmad Firdaus, pengawas salah satu SPBU di Jalan A. Syairani, mengatakan bahwa keluhan masyarakat biasanya dipengaruhi kondisi mesin, bukan kualitas bahan bakar.
“Kami pastikan Pertalite yang dijual sudah sesuai standar. Kalau ada kendaraan mogok, bisa jadi karena filter kotor atau ruang bakar belum bersih,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk melakukan servis berkala agar mesin terbiasa dengan bahan bakar beroktan lebih tinggi.
Mekanik: Mesin Perlu Penyesuaian
Beberapa mekanik bengkel di Pelaihari juga mengonfirmasi bahwa kendaraan, khususnya motor tua, membutuhkan waktu adaptasi saat berpindah dari Premium ke Pertalite.
Budi Santoso, mekanik bengkel di Bajuin, menyebutkan bahwa proses pembersihan karburator dan pergantian busi dapat membantu menghindari masalah.
“Kalau motor lama langsung ganti Pertalite tanpa servis, sering brebet. Tapi setelah dibersihkan, biasanya normal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan kadar oktan antara Premium dan memang dapat memengaruhi respons mesin, namun tidak menyebabkan kerusakan permanen.
Pemerintah Minta Warga Tidak Khawatir
Sementara itu, Dinas Perhubungan Tanah Laut meminta masyarakat tidak khawatir menggunakan Pertalite karena telah menjadi bahan bakar yang disubsidi dan disiapkan pemerintah sebagai pengganti Premium.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Tala, Arief Wibowo, menyampaikan bahwa transisi penggunaan. merupakan bagian dari kebijakan energi nasional.
“Kami berharap masyarakat lebih percaya diri. aman, dan penggunaan rutin justru lebih ramah lingkungan,” katanya.
Kesimpulan
Meski sebagian pemilik kendaraan di Pelaihari masih enggan beralih ke Pertalite karena takut mogok, pihak SPBU, mekanik, dan pemerintah daerah menegaskan bahwa bahan bakar ini aman dan sesuai standar. Edukasi mengenai perawatan mesin dan adaptasi penggunaan bahan bakar dinilai menjadi kunci untuk menghilangkan kekhawatiran warga terhadap.









