News Pelaihari – Berawal dari promosi sederhana dari mulut ke mulut, kini usaha pembuatan bata merah milik Syarifudin, warga Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, mulai dikenal luas hingga ke luar daerah. Berkat ketekunan dan semangat pantang menyerah, usaha yang dirintis sejak tahun 2015 itu kini mampu memproduksi ribuan bata setiap minggu.

Syarifudin mengaku, dulu dirinya hanya mengandalkan pesanan dari tetangga atau kontraktor kecil di sekitar Pelaihari. “Awalnya saya buat bata hanya untuk bangunan warga sekitar. Promosinya juga cuma lewat cerita orang ke orang. Tapi Alhamdulillah, lama-lama banyak yang tahu kualitasnya,” ujarnya saat ditemui, Senin (14/10/2025).
Baca Juga : Perbaikan Jembatan Perbatasan Gunungraja Tanahlaut, Pekerja Pasang Batang Kelapa untuk Bantalan
Masuk Pasar Online Jadi Titik Balik
Perubahan besar datang ketika Syarifudin mengenal platform jual beli online lokal yang difasilitasi oleh Dinas Perdagangan Kabupaten Tanahlaut. Melalui bimbingan pelatihan digital marketing dari pemerintah daerah, ia mulai belajar memasarkan produknya secara daring.
“Awalnya saya tidak terlalu paham internet. Tapi setelah ikut pelatihan, saya coba unggah foto-foto bata ke marketplace lokal dan media sosial. Ternyata banyak yang tertarik, bahkan dari luar daerah seperti Banjarbaru dan Banjarmasin,” katanya sambil tersenyum.
Kini, penjualan bata milik Syarifudin meningkat hingga 40 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Permintaan pun datang secara rutin dari para kontraktor dan toko bangunan. Ia bahkan berencana memperluas area produksi dan merekrut tambahan tenaga kerja dari warga sekitar.
Dukungan Pemerintah Daerah
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Tanahlaut, Rahmat Hidayat, mengatakan bahwa langkah digitalisasi bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM) merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas akses pasar. “Kami ingin pelaku usaha lokal, termasuk produsen bata seperti Pak Syarifudin, bisa bersaing di era digital. Promosi online sangat efektif untuk meningkatkan penjualan tanpa harus punya toko besar,” ujarnya.
Selain pelatihan digital, pemerintah juga menyiapkan program pendampingan dan bantuan alat produksi bagi para pengrajin bata yang berkomitmen menjaga kualitas produk dan ramah lingkungan.
Bata Lokal, Mutu Nasional
Bata merah buatan Syarifudin dikenal karena kualitasnya yang kuat dan tahan lama. Ia menggunakan campuran tanah liat berkualitas yang diambil dari lahan sekitar Pelaihari dan proses pembakaran tradisional yang menghasilkan warna bata kemerahan merata.
“Rahasia utamanya ada di bahan baku dan kesabaran waktu pembakaran,” katanya. Ia tetap mempertahankan metode tradisional karena menurutnya hasilnya lebih padat dan alami dibanding bata hasil mesin.
Dengan meningkatnya permintaan, Syarifudin berencana menambah tungku pembakaran serta memperluas gudang penyimpanan agar proses distribusi ke pelanggan lebih cepat.
Harapan untuk Masa Depan
Syarifudin berharap ke depan semakin banyak pelaku usaha kecil di Tanahlaut yang berani memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. “Kalau saya yang dulunya gaptek saja bisa belajar, saya yakin teman-teman lain juga bisa,” ucapnya penuh semangat.
Bagi Syarifudin, masuk ke pasar online bukan hanya soal meningkatkan penjualan, tapi juga tentang membuka peluang baru bagi ekonomi lokal. “Sekarang saya bisa kirim bata ke luar kota tanpa harus keliling menawarkan langsung. Itu kemajuan besar bagi kami,” tutupnya bangga.









