News Pelaihari – Penetapan awal Ramadan kembali berpotensi berbeda seiring penerapan metode Hilal Global Muhammadiyah. Muhammadiyah secara konsisten menggunakan pendekatan hisab dengan konsep kalender Islam global dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan. Pendekatan ini kerap menghasilkan perbedaan waktu awal puasa dengan metode rukyat lokal yang lembaga lain terapkan.

Muhammadiyah menilai konsep hilal global memberikan kepastian kalender yang lebih terukur dan bersifat universal. Dengan metode ini, Muhammadiyah menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan kemungkinan terlihatnya hilal di seluruh belahan dunia, bukan hanya di wilayah Indonesia. Muhammadiyah meyakini pendekatan tersebut mampu menyatukan umat Islam secara global dalam satu sistem kalender.
Baca Juga : Hakim PN Depok Tejaring OTT KPK, Uang Ratusan Juta Diamankan
Di sisi lain, pemerintah Indonesia tetap menggunakan metode rukyat dan hisab yang mengacu pada kriteria nasional melalui sidang isbat. Perbedaan pendekatan inilah yang membuka peluang perbedaan awal Ramadan. Namun, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Muhammadiyah juga terus melakukan sosialisasi terkait konsep kalender Islam global kepada warga persyarikatan dan masyarakat luas. Organisasi ini menjelaskan dasar ilmiah dan fiqhiyah yang melandasi penggunaan hilal global. Dengan edukasi yang berkelanjutan, Muhammadiyah berharap masyarakat memahami alasan di balik metode yang mereka gunakan.
Potensi perbedaan awal Ramadan tidak seharusnya memicu perpecahan. Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk menjadikan perbedaan sebagai kekayaan khazanah keislaman. Melalui penerapan Hilal Global Muhammadiyah, organisasi ini berharap umat Islam tetap menjaga persatuan, toleransi, dan semangat kebersamaan dalam menjalankan ibadah Ramadan.